Rabu, 14 Mei 2008

Belajar Dari Negeri Para Mullah

Oleh: Fauzi Fashri

Chu buvad, Taneh-e man buvad (ketika ada, maka Saya ada). Ini adalah sepenggal syair yang dituturkan oleh Ferdowsi -penyair legendaris bangsa Iran- dalam magnum opus-nya Surat Raja (Shanameh). Karya shanameh memuat syair-syair kepahlawanan yang memberikan inspirasi bagi masyarakat Iran guna meraih kedaulatan bangsanya. Di saat bahasa Arab mendominasi kosa kata kalangan cendekiawan dan penyair pada abad ke 3-11 H, Ferdowsi dengan berani keluar dari pakem mainstream dengan menceritakan kisah-kisah kepahlawanan dan kebesaran bangsa Persia.

Shanameh di tulis oleh Ferdowsi untuk membangkitkan nasionalisme bangsa dan menumbuhkan kebanggaan akan bahasa sendiri yang sudah lama hilang akibat dominasi penggunaan bahasa Arab pada masa itu. Lewat karya genuine-nya, Ferdowsi menggugah kesadaran nasionalisme masyarakat akan tradisi, sejarah, dan cerita-cerita pahlawan bangsanya sendiri. Ia membuka lembar-lembar kejayaan bangsanya dan menegaskan bahwa untuk meraih kembali kejayaan tersebut, semua komponen masyarakat mestilah paham dan sadar akan sejarah bangsanya guna menghidupkan kembali semangat nasionalisme yang sempat redup.

Dengan begitu, rakyat memiliki gelora cinta akan sejarah bangsanya, ketinggian peradaban yang pernah dimiliki. Rakyat tidak akan rela ketika bangsanya diinjak-injak, apalagi menjual tanah airnya untuk dimiliki negara lain. Jiwa kebangsaan tadi mendarah daging dalam pikiran dan tindakan rakyat (termasuk pemimpin) dengan tidak membiarkan bangsa lain mendiktenya, merampas kekayaan alamnya dan memberangus hak-hak rakyat demi bangsa lain. Sudah semestinya, secara rendah hati, kita belajar dari bangsa yang mampu menjaga kedaulatannya -seperti Iran- yang mencontohkan bagaimana membangun bangsa lewat kemandirian dan keyakinan bahwa bangsanya dapat maju karena dirinya sendiri, bukan berharap dari pertolongan bangsa lain.

Tidak bisa dipungkiri, Iran di bawah kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad, kini menjadi negara paling berpengaruh di Timur Tengah. Belum lagi, kemampuan nuklir yang membuat negara Barat ketar-ketir. Iran menjadi simbol perlawanan atas negara Adidaya di samping Venezuela dan Bolivia. Kepemimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang dikenal sangat berani menentang kesombongan Amerika Serikat di bawah kendali Presiden George W Bush, sungguh menggelitik untuk dicermati di tengah-tengah lemahnya kepemimpinan nasional bangsa kita.

Ketika berkesempatan mengikuti short course selama 2 bulan di Iran, penulis bertanya pada salah satu Profesor yang menjadi pengajar kami, "apa yang menjadi faktor utama negara Iran dapat berkembang maju seperti sekarang ini?". Profesor tadi menjawab singkat, "faktor utamanya karena Iran di embargo". Sejarah telah mencatat bahwa sejak 22 Mei 1980, Iran mengalami embargo ekonomi oleh Amerika Serikat. Belum lagi Iran didera perang selama delapan tahun setelah tahun pertama revolusi Iran. Embargo berlangsung hingga sekarang, tapi masyarakat Iran masih tetap bertahan. Embargo bukan malah menjadikan orang-orang Iran malas bekerja, memohon dengan welas bantuan dari bangsa lain, atau mendorong perpecahan di internal rakyat Iran.

Lewat embargo, orang-orang Iran tersadarkan bahwa mereka mesti hidup dengan keringat mereka, bekerja keras guna menunjukkan kepada dunia bahwa Iran adalah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Mari kita dengar sejenak ucapan Imam Khomeini untuk memberi semangat rakyat Iran dalam menghadapi embargo, "Kita jangan pernah takut atas embargo ini. Jika mereka mengembargo kita, kita akan lebih giat bekerja, dan hal ini bermanfaat bagi kita. Orang-orang yang takut terhadap embargo hanyalah orang-orang yang menjadikan ekonomi dan duniawiah sebagai tujuan hidupnya semata". Mata dunia terbelalak saat melihat kemajuan Iran di berbagai bidang seraya menunjukkan jikalau embargo bukanlah akhir sebuah dunia. Pada tahun 2006-2007, investasi asing mencapai nilai tertingginya di Iran berbarengan dengan pemberitaan gencar mengenai resolusi embargo terhadap Iran akibat proyek nuklirnya.

Lazimnya, ketika kita mendengar negara Iran maka yang terbayangkan adalah negerinya para mullah (ulama) di mana peran mullah sangat dominan dalam proses politik. Citra yang terbangun di Barat, Iran adalah sebuah negara yang dikuasai oleh kepemimpinan otoritarian kaum agamawan yang serta merta dicap sebagai negara tidak demokratis. Kalau kita teliti lebih seksama, Iran memiliki sistem pemerintahan yang unik untuk kemudian mengembangkan sistem demokrasi yang khas ala Iran. Meski berbentuk republik, Iran mengenal posisi Rahbar atau leader yang ditahbiskan sebagai pemimpin tertinggi dalam Republik Islam Iran. Berbeda dengan opini yang tersebar di Barat bahwa Iran is undemocratic state, Rahbar sebagai posisi tertinggi sebenarnya dipilih rakyat secara tidak langsung. Setiap delapan tahun sekali, rakyat memilih 86 ulama dari berbagai penjuru negeri untuk duduk dalam sebuah dewan yang dikenal dengan istilah Majles-e Khubregan (Dewan Pakar). Melalui Dewan Pakar inilah diadakan sidang untuk memilih satu ulama yang berhak menduduki posisi Rahbar.

Rahbar juga memiliki kekuasaan yang melebihi Presiden. Namun kekuasaannya tidak bersifat semena-mena, ia mesti mengikuti prosedur legal. Bila Presiden dianggap melanggar hukum, setelah mendapat mosi tidak percaya dari Parlemen dan vonis bersalah dari Mahkamah Agung, Rahbar-lah yang akan memecat Presiden. Kalau begitu siapa yang memiliki otoritas mengawas Rahbar? Dewan Pakarlah yang memiliki wewenang memecat Rahbar apabila telah melakukan pelanggaran hukum. Menjadi terang bahwa Iran bukanlah negara yang tidak demokratis -kecuali kalau ukurannya adalah demokrasi liberal Barat-. Iran memiliki konsepsi demokrasi tersendiri yang khas. Bukankah yang terpenting dalam demokrasi yaitu tercapainya keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Iran sedang mengajarkan kepada kita bagaimana demokrasi substantif diselenggarakan secara baik yang tidak semata-mata berhenti pada demokrasi prosedural.

Fenomena Iran menyeruak ketika Presiden Ahmadinejad dengan lantang memimpin bangsanya untuk melawan kedzaliman struktural dan ketidakadilan global yang dilancarkan Amerika Serikat beserta sekutunya. Dalam wawancaranya dengan TV CBS, Ahmadinejad menuturkan bahwa dunia harus diatur dengan undang-undang dan keadilan. Tanpa adanya undang-undang mengakibatkan kehancuran segala sesuatu. Sembari mengutip pepatah Persia yang berbunyi, "batu yang ditumpukkan di atas batu tidak akan terikat satu sama lain", Ahmadinejad menegaskan bahwa kita membutuhkan undang-undang dan keadilan untuk mengatur dunia. Tanpa keduanya, untuk mengatur desa pun kita tidak akan mampu.

Kepemimpinan Ahmadinejad merupakan gabungan antara keberanian untuk mengambil keputusan dan ketidaktakutan terhadap siapa pun kecuali Tuhan. Ketika wajah dunia kehilangan rona kemanusiaannya akibat dari ketidakadilan yang dipraktikkan oleh negara-negara super power, Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad mengembalikan martabat kemanusiaan pada posisi tertinggi. Kedzaliman yang luar biasa ketika negara-negara adidaya menindas rakyat yang tidak bersalah.

Ahmadinejad adalah simbol perlawanan terhadap penyimpangan, ketidakadilan, dan kedzaliman. Ia merepresentasikan psikologi mustadh'afin -meminjam istilah Azyumardi Azra-, sebuah jiwa yang bersarang di dalam tubuh-tubuh orang tertindas dan teraniaya. Psikologi mustadh'afin bekerja efektif ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang menindas, baik itu rezim politik dalam negeri maupun keputusan dan kebijakan politik negara-negara kuat yang menindas dan tidak adil. Psikologi mustadh'afin mengakar kuat dalam masyarakat Iran dengan tradisi Syiah yang kental. Sejatinya psikis mustadh'afin tidak saja dimonopoli oleh negara Iran, belahan dunia lainnya, seperti Amerika Latin, Afrika, sebagian Asia, juga memiliki psikologi ini.

Psikologi mereka yang teraniaya dan tertindas ini membutuhkan kepemimpinan kolektif yang diiringi dengan keberanian serta visi keadilan memimpin dunia. Dalam suratnya kepada Presiden Amerika Serikat, George W Bush, Ahmadinejad mempertanyakan mengapa Amerika menentang kepemimpinan yang lahir dari proses pemilihan umum yang demokratis, sementara kepemimpinan yang berasal dari proses kudeta tidak ditentang malah didukung. Dengan "santun" Ahmadinejad menasehati Bush, "Menurut saya, Bush bisa lebih melayani rakyatnya sendiri. Ia dapat memperbaiki kembali perekonomian Amerika dengan metode yang benar tentunya. Tanpa perlu membunuh, menjajah dan mengancam, ia perlu pergi melihat warga Amerika sendiri dan mencari tahu apa yang mereka katakan tentangnya. Saya sangat sedih ketika mendengar satu persen dari rakyat Amerika melalui hari-harinya di penjara, dua puluh persen rakyat Amerika buta huruf dan sekitar empat puluh lima persen warga Amerika tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Yang paling membuat saya sedih adalah dalam sejarah satu abadnya Amerika telah terjadi seratus sebelas kali mereka melakukan peperangan. Menurut saya, Bush bisa melihat masalah dengan kaca mata lain. Tentunya beliau bebas untuk bersikap, namun jangan berharap masyarakat akan mengikutinya dan pada waktunya mereka akan menjawab perilakunya selama ini."

Kemimpinan Ahamdinejad dapat dijadikan ilham bagi kepemimpinan nasional bangsa kita bahwa pemimpin yang membela rakyat akan selalu dicintai rakyatnya; pemimpin yang dilandaskan keberanian untuk tidak tunduk pada kekuatan adidaya selalu mengantarkannya pada simpati rakyat banyak; sebuah prototype pemimpin yang satu kata dan langkah. Ahmadinejad dalam membangkitkan nasionalisme rakyat Iran -dengan tidak menafikan kelemahan yang ada- menempatkan bangsanya pada posisi tertinggi; tidak menggadaikan martabat bangsa di bawah kendali bangsa lain dan yang terutama kepercayaan terhadap rakyatnya sendiri sebagai modal berharga untuk membangun negaranya, sebuah kepercayaan untuk berdiri sendiri, berdikari dan melihat sejarah bangsanya dengan penuh kebanggaan. Akhirul kalam, masa depan negeri ini berpulang pada keberanian pemimpin kita untuk membangun bangsa secara mandiri dan berdikari, tidak berpangku tangan pada bantuan negara lain. Karena sejarah mencatat, pemimpin yang mampu bertindak dan berkata untuk kesejahteraan rakyatnya akan mendapatkan cinta dari rakyatnya. Sementara pemimpin yang retak antara kata dan lakunya tidak akan mendatangkan simpati dari rakyatnya sendiri.

Tidak ada komentar: