Rabu, 14 Mei 2008

Mal, Politik Tubuh, dan Kuasa Modal

Oleh: Fauzi Fashri

Berbincang tentang mal, benak kita pasti terantuk pada sebentuk bangunan menjulang nan megah yang dipenuhi dengangerai yang menjajakan berbagai produk konsumsi sebagai hasil revolusi produksi industri modern. sebagai salah satu ruang public (public space) masyarakat modern, mal menjadi arena bertamasya yang memanjakan para pecinta wisata industri makanan, busana dan kecantikan, benda-benda elektronik, serta produk-produkkebudayaan modern lainnya.
Mal merupakan universal culture, di mana mal yang satu dengan yang lainnya memiliki kesamaan konsep. Misalnya, mal yang ada di Indonesia dengan mal yang ada di Amerika Serikat adalah sama. Kesamaan antara satu mal dengan mal yang lain hadir dalam bentuk jenis outlet yang ditawarkan adalah sama, meliputi food, fashion, and fun (dalam beberapa jenis merek tertentu antara mal yang di dalam negeri dengan yang di luar negeri sama-sama menjualnya).
Selain sebagai alat komoditi yang memiliki nilai komersial yang tinggi, mal juga mempunyai sistem dan struktur memadai untuk mengintegrasikan masyarakat ke dalam ‘Mall Societies’. Mereka yang memasuki mal, secara tidak sadar, akan diarahkan untuk mentaati setiap peraturan yang mengatur pola interaksi mereka selama berada di batas teritorial mal. Mal beroperasi melalui perlakuan terhadap tubuh manusia dan merekayasa sedemikian rupa layaknya dokter yang lihai mencandra anatomi tubuh manusia untuk dikenali sistem kerjanya.
Dewasa ini, persoalan tubuh menjadi fokus menarik dalam studi budaya (cultural studies). Tubuh tidak lagi menjadi entitas yang solid, melainkan sudah terpecah-pecah dalam kendali politik komoditas. Goenawan Mohamad, dalam esainya Tubuh, Melankoli, Proyek, menuliskan bahwa ‘tubuh bukan saja kecil dan rapuh, tetapi muncul dalam representasi yang tidak lagi stabil dan kekal’. Tubuh tidak lagi utuh dan padu seperti yang dilihat sepintas, ia rapuh dan tidak berdaya di hadapan kuasa modal.
Tubuh, di satu sisi, adalah entitas yang kita alami dan rasakan dari dalam. Di sisi lain, tubuh merupakan hasil bentukan dari luar, baik itu melalui sistem budaya, ekonomi, maupun visualisasi media. Tulisan ini berupaya meneropong rekayasa tubuh melalui mal sebagai representasi lembaga kapital yang memproduksi persepsi, identitas, dan gaya hidup manusia modern.
Jika kita melihat ke dalam diri manusia, terdapat habitus hasrat yang menjadi skema afektif dalam mempersepsi realitas diluar dirinya dan juga berperan membentuk pola perilaku tertentu. Habitus hasrat ini memberikan energi bagi tubuh untuk berpikir dan bertindak secara terus menerus hingga membentuk kebiasaan. Meminjam konsep psikoanalisis Jacques Lacan, habitus hasrat mengorientasikan tubuh manusia pada kehendak untuk memiliki dan menjadi.
Perlu diingat pula, habitus hasrat yang dipaparkan di atas, tak bisa dilepaskan dari struktur kebutuhanmanusia, baik yang bersifat biologis maupun eksistensial. Maksudnya, semakin manusia kekurangan akan kebutuhan biologis dan eksistensialnya maka hasrat untuk memiliki dan menjadi semakin meningkat. Perumpamaan sederhananya seperti anak kecil yang tidak puas makan bubur berganti nasi, tidak puas mengkonsumsi nasi berpindah ke snack, danseterusnya. Manusia dalam kendali hasrat berupaya mejadi figur ideal yang dikehendakinya –dan celakanya diyakini sebagai dirinya sendiri. Misalnya, meniru bentuk tubuh, pakaian atau gaya hidup artis terkenal.
Di kemudian hari, positioning tubuh bergeser dari dimensi interioritas ke eksterioritas. Kecanggihan mal, melalui kekuatan modalnya, ialah merekayasasisi hasrat manusia sebagai pintu awal menuju imajinasi tentang tubuh ideal. Tidak semata dari segi physical, melainkan pembentukan citra pada level simbolik dan angan-angan. Lewat strategi pendisiplinan tubuh, mal secara cantik merekayasa tubuh sebagai proyek ekonomi.Dimulai dari tata ruang mal yang dirancang senyaman mungkin seperti taman rekreasi, pengunjung “bebas” hilir mudik meskipun sekedar to see and be seen, istilah gaulnya cuci mata sambil ngeceng. Ada juga yang menjadikan mal sebagai tempat peristirahatan dari kepenatan beraktivitas. Dengan eskalator, tubuh diantar menyisir setiap gerai tanpa menguras tenaga -sambil makan, mengobrol, dan lirik sana sini. Tubuh dibebaskan untuk melihat, memegang, dan membeli aneka produk yang dipasarkan di setiap gerai.
Upaya mal mempolitisasi tubuh dipraktikkan melalui pengaktifan mesin hasrat (desiring machine) dalam diri manusia modern. Mal membedakan mana tubuh yang “melek” mode dan tubuh yang gagap mode. Menjadi tubuh modern berarti berpakaian mengikuti trend, berpostur tinggi semampai, dan mengkonsumsi jenis makanan tertentu. Pengunjung tidak sadar bahwa mereka sedang disihir demi kepentingan produk tertentu, digiring oleh mesin hasrat tak terpuaskan yang nota bene diciptakan secara sengaja oleh kekuatan modal.
Tubuh di era mal-isme melampaui konsepsi konvensional yang meletakkan tubuh pada posisi subordinat dari jiwa. Jika dulu tubuh diproyeksikan pada kedangkalan dan diacuhkan, di era mal-isme tubuh dirayakan dan dipuja-puja. Dengan kata lain, meminjam pendapat A. Synnott dalam bukunya The Social Body, tubuhlah yang menaklukkan jiwa.
Selain itu, modus operandi mal dalam melakukan body engineering terkait dengan kekuasaan simbolik yang meletakkan tubuh dalam wilayah imajinasi dan simbol. Symbolic power is a power of constructing reality, ujar Bourdieu dalam Language and Symbolic Power. Tubuh diekstensifkan melalui visualisasi media, baik itu di televisi, majalah, billboard iklan, maupun lainnya. Citra tubuh yang tersebar dan terbagi-bagi dalam ruang visual itulah yang kemudian mengkonstruktsi realitas sekaligus menyembunyikan struktur kekuasaan yang mendominasi.
Citra tubuh modern tersebar dalam setiap sudut mal untuk menentukan selera dan gaya hidup kosmopiltan. Tubuh dieksplioitasi oleh kepentingan modal tanpa menghiraukan strata sosial. Kaya-miskin terintegrasi dalam selera hidup konsumtif. Setiap benda yang dicitrakan, baik itu mobil mewah, telepon seluler mahal, tubuh yang elok, maupun celana kolor, memiliki makna bagi yang menggunakannya: status, sensualitas, dan sebagainya. Tapi, citra tersebut akan menjadi teror sosial ketika ia tampil di dalam kondisi masyarakat dengan tingkat kesenjangan sosial yang semakin menganga. Memang, efek negatif terhadap masyarakat kecil tidak pernah diperhatikan oleh mekanisme citra.
Mal sebagai agen simulasi realitas membuat kabur batasan antara keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Tubuh diajak bertamasya sembari mengakumulasi keinginan yang tak terbatas. Pilihan untuk memilih tidak lagi didasarkan oleh fungsi, melainkan kehendak buta. Tidak heran jika kita menyaksikan ada orang yang memiliki koleksi sepatu, tas, atau baju berjumlah banyak. Tindakan mengkoleksi bukan didasarkan pada fungsi dasarnya, tapi lebih pada pemenuhan akan simbol dan pengakuan. Tubuh dinilai dalam penampilan. Ia menjadi produk yang setiap saat dipamerkan dalam pasar simbolik. Keindahan dan kecantikan ditampilkan secara utuh melalui semesta tanda yang menyamarkan kepentingan dibaliknya.
Saat ini, manusia sebagai makhluk individu telah tercerabut dari tubuhnya sendiri. Ia merelakan tubuhnya untuk dikuasai oleh kekuatan diluar dirinya. Prinsip dasar bahwa “aku” lebih berkuasa atas tubuhku menjadi lenyap digerus kepentingan modal. Tidak ada lagi resistensi terhadap apa yang datang dari luar. Tubuh individu berganti menjadi tubuh sosial yang rela diatur dan diberikan pihak lain.
Apa yang ditawarkan mal dengan segala kekuasaan simboliknya hanyalah memikat pada tataran permukaan. Tubuh tetap membutuhkan stabilitas dan kepaduan tertentu untuk memulihkan bakat eksistensialnya. Ketika mal mereduksi tubuh sebatas sisi material, totalitas manusia menjadi retak dan terasing. Pada titik inilah, kita harus menyakini bahwa “aku” berhak mempertanyakan segala sesuatu yang datang kepada tubuhku.
Mal yang kini menjadi “rumah baru” masyarakat modern, hanyalah agen pencipta realitas semu yang seakan-akan nyata. Dalam situasi hyper-real yang diadakan mal, segala sesuatu disempitkan menjadi seperangkat tema dan simbol menjanjikan dan menyenangkan. Karena itu, manusia modern harus semakin kritis bahwa tubuhnya sedang dijadikan proyek oleh pemilik kuasa modal.

Tidak ada komentar: